Small Footprints on the Long Trip

Begitu lah…


Aku menyebutnya perawan senja

Karena cintanya yang sunyi kepada senja

Dan mungkin, senja telah memberikan cinta padanya

Selarik kata yang asing telah memercik suatu sore

Dan kami berenang dalam lautan kata itu

Hingga menepi, semua kembali sunyi

Hanya suara-suara malam yang kadang membisik

Atau, bisikan-bisikan pagi yang kadang mengusik

Selebihnya adalah siang, yang panas, bergegas…

Just Wishes


Rasanya mata ini udah bengkak. Seperti Gandalf, penyihir tua berambut putih yang kelopak matanya menggelantung seperti orang mau tidur. So bored, bercinta dengan key board dan monitor, penetrasi tanpa orgasme. Kalau saja nggak dikejar deadline pasti lah aku udah cabut. Ah, tapi semua tempat tak lebih dari pasar loak. Hanya menyajikan barang-barang bekas, semua yang pernah dikonsumsi atau dilakukan orang lain. Mereka yang ada di masa kita, atau dari peradaban lain yang telah tiada. Semua yang masih saja menyisakan kepedihan, ketimpangan, menang-kalah, menguasai dan terpinggirkan…

Kalau saja mungkin, ingin rasanya sejenak melepaskan otak, menanggalkan hati, menyimpannya di laci kamar, dan atau sejenak meletakkan raga di lemari pakaian. Terbang menembus dimensi keempat, keluar masuk pintu-pintu parallel antar masa. Mengais serpih-serpih cerita tak berujung, membongkar selaput kemunafikan yang tersekat batas-batas waktu. Tentu semua akan menggairahkan, melebihi panorama virtual yang pernah ada. Menciptakan desir-desir adrenalin sekuat tarikan black-hole, atau buaian harmoni laksana evolusi planet dalam tata surya.

Sesuatu yang lebih garang dari raungan David ‘Disturbed’ Draiman, lebih liar dari aksi Jim Morrison, lebih seksi dari lengkingan Amy ‘Evanessence’ Lee, lebih lembut dari alunan biola Sharon Corr. Lebih lentur, lebih lincah, dan lebih cekatan dari tarian jemari di atas key board ini. lebih dari semua barang bekas di pasar loakan. Lebih dari semuanya, lebih dari…. Ah tapi deadline makin menghimpit bung, dan aku harus menyelesaikan secepatnya, atau istirahat lelap buat cadangan energi esok pagi. Met malam, eh pagi…

Pringwulung, 16 Februari 2007

Kesetiaan


Pertama-tama muncul gambaran sebuah rantai besar yang mengikat. Kemudian terbayang sebuah kacamata kuda. Itu lah gambaran yang muncul saat berpikir tentang “kesetiaan,” faith, loyality, commitment, atau apa pun istilahnya. Kesetiaan itu kaku, membabani, hitam putih dan membosankan. Bayangkan sebaliknya, andai tidak ada tuntutan untuk menjadi seorang yang setia, andai tidak ada tuntutan berkomitmen, andai tidak ada, andai tidak ada…dan seterusnya. Tentu sangat menyenangkan hidup menuruti naluri, memilih berdasar impuls syaraf yang mengembang. Datang dan pergi mengikuti kesempatan, perhitungan “untung-rugi” semata.

Lalu apa relevansi kesetiaan, komitmen, loyalitas atau apa pun namanya? Pertanyaan itu sebenarnya menyerupai pertanyaan: kenapa kita harus kentut kalau kita nggak suka baunya? Kenapa harus buang air kalau males cebok, dan semacamnya. Kata kunci untuk menjawab pertanyaan itu adalah kebutuhan dan pilihan. Inti dari kedua kata kunci itu tetap sama, yaitu kecenderungan orang untuk menyusun keselarasan antara keadaan subyektifnya (individu) dengan kondisi obyektif (lingkungan) yang melingkupi.

Namun begitu, tetap ada perbedaan antara kebutuhan dan pilihan. Kebutuhan mendorong orang untuk melakukan tindakan yang mutlak, tidak bisa tidak. Dalam keseharian kebutuhan ini muncul dalam bentuk tuntutan untuk mereproduksi energi dengan makan, minum, istirahat, dan sebagainya. Kalau berbagai tuntutan itu tidak dipenuhi, maka bisa dipastikan bahwa orang tersebut akan mengakhiri hidupnya dengan sukses, lantaran kehabisan energi.

Sedangkan pilihan lebih menekankan peran aktif individu, yang dihadapkan pada alternatif yang jamak. Contoh kasus, misalnya seseorang dihadapkan pada kebutuhan untuk menyelamatkan diri sendiri atau berusaha menolong temannya ketika sama-sama sedang terancam. Di sini orang akan menimbang, seandainya dia berusaha menolong kawannya, maka ancaman akan lebih besar. Sebaliknya, ketika memutuskan untuk menyelamatkan diri sendiri, maka ancaman akan lebih kecil. Tujuan utama di sini adalah keselamatan. Maka dari itu sebenarnya piliha kedua untuk menyelamatkan diri sendiri akan lebih baik dalam parameter tujuan itu.

Tapi kenyataannya tidak mutlak seperti itu. Karena bisa jadi orang tersebut berpikiran, seandainya dia bisa menyelamatkan diri sendiri, namun gagal menyelamatkan temannya, maka dia akan menjalani kehidupan yang tidak tenang. Dibayangi kesalahan, penyesalan, yang dalam titik paling ekstrim juga bisa berimplikasi pada gangguan jiwa atau bahkan bunuh diri. Dan di sinilah faktor pilihan mengambil perannya, masalah spiritual, bukan semata pertimbangan fisik atau materiil.

Dalam hal ini kesetiaan memiliki dua makna. Yang pertama yaitu kesadaran seseorang untuk memenuhi kebutuhannya, dan yang kedua yaitu kesungguhan seseorang untuk memilih, dan mempetimbangkan setiap efek dari pilihannya tersebut. Dalam konteks pertama kesetiaan akan muncul dalam bentuk kedisiplinan dalam bersikap dan bertindak. Dan yang kedua akan terlihat dalam keteguhan serta ketangguhan dalam mempertahankan sikap dan tindakannya.

Jadi kenapa kita harus setia? Tentu pertanyaan ini nggak bisa dijawab dengan indikator materiil semata. Setia pada kebutuhan akan lebih mudah dijawab, karena hal itu memang berkaitan erat dengan persoalan materiil. Tapi setia pada pilihan, adalah masalah spirituil, mengenai teori dan praktik, dan lebih dekat dengan masalah asketisme, tentang “apa yang berarti atau berharga.” Dan dalam kenyataannya, memang seringkali dua kesetiaan itu seringkali saling bertentangan.

These Days


But in the day, everything’s complex

Nothing is simple, when I’m not around you

Nampaknya aku harus menganggukkan kepala saat mendengar lirik “When You’re Gone” di atas. Hari ini tak ada lagi hal sederhana. Atau mungkin aku yang lupa pada hal-hal sederhana itu? Ah, tapi aku tidak sedang merindukan sesuatu yang telah pergi seperti The Cranberries. Aku hanya berbicara dengan waktu.yang entah, apakah dia yang mengubah semua menjadi sekompleks ini, atau kah sekedar alur yang menemani materi yang bergeser sedemikian jauh.

Lebih dua puluh tahun lalu, aku masih ingat. Rasanya sangat sulit memetik buah jambu di atas pohon yang batangnya dihuni ratusan atau mungkin ribuan semut merah yang siap menyerbu siapa saja yang melintas. Sehingga aku harus minta ayah atau kakak untuk memetikkan. Dan aku juga masih ingat, alangkah mudahnya memetik jeruk yang tinggi pohonnya kurang dari satu meter, semudah membalik telapak tangan.

Yah, membalik telapak tangan sangat mudah, aku masih ingat. Sama mudahnya dengan bermain-main air atau membikin “itik-itik” (replica bangunan dari pasir basah) di “gesikan,” padang pasir putih di pinggir sungai dekat rumahku waktu itu. Tak sesulit pertanyaan-pertanyaan yang kadang melintas. Bagaimana kita bisa terlahir? Mau apa kita? Kenapa nggak boleh main terus-menerus? Kenapa harus sopan sama orang? Dan banyak lagi pertanyaan yang membingungkan.

Itu yang membuatku terkesan dengan para ilmuwan, ulama, pejabat yang nampang di TV atau yang kutemui dalam keseharian masa itu. Tanpa keraguan mereka menyampaikan pandangannya tentang hidup, misi sosial, ilmu pengetahuan dan segala asketisme dengan meyakinkan. Sama hebatnya dengan cerita ayah tentang tokoh-tokoh besar dan heroisme yang tak pernah lekang. Dan sama kagumnya dengan ayahku sendiri yang menyampaikan semua dengan fasih, dan menjawab pertanyaan-pertanyaanku tanpa keraguan.

Dan banyak lagi, hal-hal yang terasa sangat mudah ataupun sulit, ketika semua masih sangat sederhana. Ketika spectrum masih berlapis hitam dan putih, mudah dan sulit, mampu dan tak mampu, etc. Dan sekarang? Semua terasa sulit, bahkan untuk sesuatu yang sangat mudah, seperti main-main air, atau membuat itik-itik di pinggir sungai. Bahkan aku tak ingat, sudah berapa lama aku tak melakukannya lagi.

Tapi anehnya, sekarang aku tak lagi kagum pada orang-orang yang dulu kuanggap hebat itu. Apa yang mereka lakukan bukan lagi sesuatu yang hebat. Bahkan terpikir, bukan tak mungkin aku sendiri mampu melakukannya. Tapi kenapa semua terasa sulit? Bahkan untuk sekedar bermain-main air atau itik-itik di pinggir sungai?

Tampaknya memang tuntutan waktu yang berbeda. Waktu yang mengajak kita menyambut, menjumpai sesuatu untuk kemudian meninggalkan, ditinggalkan. Waktu yang mengantar menembus keterbatasan yang dulu sangat rumit, melewati peristiwa tak terbayangkan, kehilangan semua yang berharga, orang-orang tercinta, semua yang menyenangkan dan menyedihkan. Bukan untuk disesali, tapi diendapkan, dan tetap mempertahankan yang tak ingin ditinggal. Dan ketika gagal, sekali lagi waktu yang memaksa tetap melaju, tanpa toleransi atas penyesalan, hanya refleksi, perenungan dan tetap melaju. Materi telah bergeser sedemikian jauh, dan waktu memiliki tuntutan berbeda, entah berbanding lurus atau kah acak.

Dan tampaknya ada hal lain yang juga menghilang saat ini, kemustahilan dan kepastian. Semua menjadi mungkin, karena ketidakmungkinan telah terjadi, seiring menghilangnnya kepastian. Peristiwa terburuk yang terasa tak mungkin, atau optimisme-optimisme yang menguap. Waktu telah menciptakan semua kemungkinan, mengenyahkan semua kekhawatiran, hingga hari ini aku bercakap-cakap dengannya.

Kapas dan Karang


Pernahkah kau berpikir tentang sehelai kapas?

Lembut, bersih, tak berbeban

Atau tentang sebongkah karang?

Yang kasar, kotor, dan berat

Kalau kau memikirkannya

Singgahlah sejenak di peraduan otakku

Terbanglah bersama udara

Masuk lewat gerbang nafasku

Lewati ruangan utama

Dan singgahlah di lantai atas

Di

sana

kau

kan

temui

Semua yang pernah kau inginkan

Dan kau pun akan jumpai

Semua yang tak pernah kau bayangkan

Buntalan kapas putih itu

Akan menemanimu terlelap di waktu malam

Dengan tebar wewangian meresap setiap celahnya

Dan bongkahan karang yang berderet itu

Akan membangunkanmu di waktu pagi

Dengan gemuruh ombak menghantam

Kau pasti akan terbangun …                         

Kalau Kau Berkenan (A Classic Romance)


Kalau kau berkenan

Aku akan memanggilmu cicak

Karena aku melihat sosokmu

Pada seekor cicak

Dan aku pun melihat seekor cicak

Dalam sosokmu

Kemarin malam, saat aku berbaring

Dia merayap di dinding kamar

Mengendap pelahan

Menatap penuh waspada

Mungkin dia khawatir aku akan membunuhnya

Mungkin juga dia mengira aku telah menculik kawannya

Menembak saudaranya, memperkosa isterinya

Atau merampas semua haknya

Atau mungkin juga….

Dia sedang melihat sosokmu pada diriku….

Sesuatu yang Berpusar


30 Juli 2006
Red Dragon (Trilogy Silent of the Lambs): “Anggaplah setiap hari adalah hari terakhirmu, waktu yang tak kau nantikan akan datang sebagai kejutan”

Merapi masih juga meniupkan nafas panas berwarna kemerahan diiringi tiupan awan putih, terkadang juga kelabu. Di pagi hari, ketika polusi belum membungkus kota yang konon merupakan pusat pendidikan dan kebudayaan ini, sosok merapi dapat dilihat dengan jelas dari depan kost. Tampak seperti mata Sauron menjelang kebangkitan ruh jahatnya. Sementara guncangan-guncangan kecil yang konon berasal dari penjuru selatan pulau ini masih juga terasa. Kadang memangunkan tidur malam dengan mengetuk-ngetuk jendela kamar, kadang juga menggeser rak buku dan mengantukkannya dengan dinding kamar.
Begitulah juga malapetaka yang terjadi dua bulan lalu, ketika orang masih terpaku menatap utara, tiba-tiba terjadi sentakan hebat dari belakang punggung, dan ketika memutar kepala, ribuan bengunan serta jiwa telah berjatuhan. Peristiwa yang singkat dan maha dahsyat. Dan sampai sekarang sisa-sisanya masih terasa, guncangan-guncangan kecil dari selatan yang menyentak tidur tengah malam, atau hembusan nafas kemerahan di arah utara.
Terkadang ironis memang, sesuatu yang sebenarnya bermakna bahaya bagi banyak orang, tak jarang justru menjadi hiburan bagi kelompok yang lain. Hal serupa kualami sendiri, kemarin pagi, ketika baru sebagian manusia terbangun dari lelap, di penghujung utara tampak Mata Raksasa Sauron mengerjap dengan kilatan apinya. Terlihat benar betapa alam masih menunjukkan keperkasaannya, dan…sungguh indah. Apalagi ketika kita menatapnya dari balik rumpun anggrek merpati yang sedang merekah di akhir bulan juli ini. Sampai di sini aku tertegun. Betapa keindahan itu telah mendatangkan kepanikan bagi ribuan orang di kaki raksasa yang sedang demam itu.
Kejadian lain juga sempat kualami secara langsung ketika telapak ibu bumi melambai, mengebaskan benda-benda kecil yang ada di atasnya. Termasuk benda kecil yang selama ini menjadi pernaungan serta tempatku tumbuh berkembang sejak pertama kali mencicipi bau atmosfer bumi 26 tahun silam. Ketika banyak orang merasa panic, kalut galau, dan gamang menatap kehidupannya. Berbarengan dengan orang-orang yang sibuk melakukan pendataan, entah dengan dalil kemanusiaan, proyek, prestise, atau apa pun. Yang jelas saat itu ada dua suasana yang terjadi berbarengan antara mereka yang hilang pengharapan dengan mereka yang menyaksikan hal baru yang belum pernah terlihat atau satu hal yang memberi pengharapan. Dan tak sedikit pula mereka yang datang hanya untuk mengabadikan momentum itu sebagai koleksi pribadi.
Tampaknya memang semua hal memiliki sisi yang berlawanan. Sesuatu yang menyenangkan, tak jarang menjadi terror bagi orang lain. Sebaliknya, yang mengerikan, bisa jadi merupakan kesenangan bagi orang lain. Jangankan dalam relasi interpersonal, untuk diri sendiri sekalipun, kadang-kadang kita tersenyum mengingat hal buruk yang pernah kita alami, bahkan pengalaman yang paling menyedihkan sekalipun. Sebaliknya, kadang kita menjadi sedih mengingat sesuatu yang sebenarnya menyenangkan.
Semua terjadi dan berlalu. Mungkin memang kemuliaan atau pun kutukan hanyalah sesaat, kemudian semua serupa. Tak ada keagungan ataupun kutukan. Seperti halnya adam dan hawa yang menjadi abadi setelah mereka terlempar dari keabadian itu sendiri. Dan keabadian itu datang kembali ketika semua telah berlalu. Dan ketika mereka sedang menjalani mungkin saja mereka tak pernah merasakan keabadian maupun kutukan itu.

unpredicable incident


Terkadang realitas tak seperti yang kita harapkan, demikian orang banyak bilang, dari Ludwig Feuerbach sampai Sandra Bullock dalam while you’re sleepingnya. Dan memang itu yang kualami dua minggu terakhir ini. Tepatnya mulai tanggal 27 mei 2006 pas aku masih terlelap dalam tidur yang sangat singkat. Hari itu aku baru terlelap mendekati jam lima pagi, dan tak satu jam kemudian guncangan keras membangunkan tidurku singkat itu.

Awalnya kupikir ada yang iseng bikin kekagetan yang gak penting. Ternyata bukan, karena semua benda di sekelilingku melonjak-lonjak, bahkan sampai genteng kamar sebelah rontok layaknya daun kering yang meranggas di musim kemarau. Kurang lebih sepuluh menit kepanikan dan ketakutan masih menyelubungi suasana saat itu. Dan ternyata kepanikan lain menyusul.

Sekitar jam setengah delapan orang-orang berlarian menyelamatkan diri lantaran isu Tsunami tiba-tiba aja berdengung di mana-mana. Dan dengan itu aku segera tahu kalau pusat gempa yang sedang terjadi saat itu berasal dari daerah selatan, bukan dari Merapi seperti yang diperkirakan banyak orang sewaktu kejadian. Saat itu juga om Ryas dari sebelah kasih kabar kalau daerah imogiri, tempat tinggalku mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa tektonik berkekuatan 5,9 skala richter itu.

Aku masih belum begitu yakin, paling-paling retak-retak biasa. Maka pas mbakku telpon en kebetulan hpku lagi drop, aku masih belum yakin bahkan sempet suudzon kalau dia lagi berusaha nagih janji skripsiku bulan ini. Apalagi semua aliran listrik langsung padam seketika, maka rencana telpon rumah menyakan kabar pun kuurungkan sementara.dan abis itu masih sempet ngopi en buka2 file komputerku. Tapi jam 11 siang baru aku cukup panic ketika seorang kawan datang en bilang kalau daerah selatan memang mengalami kerusakan sangat serius, en korban dah mencapai ratusan jiwa.

Segera aku cabut dengan perasaan tak keruan. Dan setelah 45 menit perjalanan, ternyata yang kujumpai memang di luar perkiraan sama sekali. Rumahku sudah rata dengan tanah, begitu juga rumah-rumah di sepanjang jalan menuju kampung. Bisa di bilang hampir seratus persen kampung berpenghuni lebih dari 1000 jiwa dengan 300 bangunan rumah itu rata dengan tanah. Mungkin seperti kadipaten Tuban yang digilas pasukan gajah Majapahit yang dipimpin mahapatih gajah mada, atau seperti kebudayaan Semith yang dilumat bangsa arya. Bedanya yang ini terjadi di depan mata, sementara dua hal di atas hanya kudapat melalui literatur.

Di sepanjang jalan kampung kudapati semua tetangga bermuka murung, aku harus turun dari motor lantaran beberapa ruas jalan tertutup runtuhan tembok atapun pagar yang jatuh melintang. Beberapa tetangga sempat bersalaman, menanyakan kabar, memberitakan kalau sudah ada 12 korban jiwa di kampungku (sampai malam kemudian seluruh korban bertambah menjadi 16 orang termasuk nenekku). Selebihnya tak sempat memperhatikan, dan lebih sibuk memungut serpihan reruntuhan rumah sambil mengekspresikan kemurungan yang mendalam. Kejadian yang tak terduga itu telah merenggut keramahan yang selama ini menjadi etika wajib di kampung halamanku yang mungil itu. Di rumah (atau lebih tepatnya mantan rumah) sudah menunggu kakak dan ayah ibu yang juga sedang sibuk menyingkirkan bebatuan dari jalan.

Waktu itu mereka menceritakan kalau nenek dalam keadaan selamat meski pun pinggangnya sempat kejatuhan serpihan tembok sewaktu dia dibopong keluar rumah. Dan sekarang om ku dah membawanya ke rumah sakit. Maka begitu mengejutkan ketika dua jam sesudahnya kami mendapat kabar kalau nenek tak tertolong, meninggal beberapa saat setelah memperoleh infuse.

Sewaktu sampai di mantan rumahku itu, yang langsung terpikir adalah membersihkan reruntuhan di sekitar halaman, menyelamatkan barang keperluan mendesak yang bisa digunakan, serta mencari tempat untuk bermalam. Akhirnya aku bareng masku (dengan memberanikan diri) menelusup di bawah jebolan atap yang tinggal setinggi kurang dari 1,5 meter karena sewaktu runtuh masih tertahan retakan tembok yang kalo terkena goyanangan sedikit lagi maka siap meratakan diri dengan tanah menyusul bagian rumah yang laen. Tapi apa boleh buat, waktu itu kami butuh beberapa helai pakaian, tikar, sarung seperlunya untuk kebutuhan sementara. Bener-bener mirip Rambo yang menelusur lorong bawah tanah berpacu melawan ledakan yang meruntuhkan, cuiiihhh ini bukan pilem brurr….

Dan paling tidak malam itu kamu memiliki tikar untuk alas tidur, en beberapa helai sarung untuk selimut. Untuk tempat bermalam, kebetulan di sebelah rumah ada warung angkringan yang masih berdiri utuh. Karena memang bangunan yang tidak permanent tak ada yang runtuh. Termasuk warung itu yang hanya bertiang bamboo dan tidak memiliki dinding,. Kampong dah mulai sepi karena mayoritas (hampir semua) warga mengungsi ke atas bukit lantaran isu tsunami yang diedarkan para bajingan yang layak mati sengsara itu (atau hidup tanpa lidah). Sementara ayahku tak ikut mengungsi ke atas bukit karena dia ikut gurusin jenazah yang harus dikebumikan secara darurat dan massal, tanpa penyelenggaraan seperti yang dipercaya penduduk setempat.

Sementara malam itu aku kembali tak tidur sama sekali, menunggu di tempat tidur darurat sambil membayangkan ratusan warga yang sedang mengungsi di atas bukit, karena kebetulan saat itu menjelang pagi hujan deras mulai mengguyur debu-debu pecahan tembok yang baru saja hinggap kembali setelah seharian malayang-layang di udara, sebagian debu-debu itu juga masih melekat di badan lantaran kamar mandi yang biasa membilasnya sudah menyerah di bawah puing-puing rumah kami. Tapi satu hal yang sangat menyedihkan waktu itu adalah, bahwa tak kurang seratus balita dan manula ikut mengungsi ke atas bukit lantaran isu Tsunami terkutuk itu.

Dan paginya ketika aku menyempatkan diri menjenguk mereka yang di atas bukit, ternyata benar apa yang kukhawatirkan. Di satu tempat pengungsian terdapat tak kurang dari 30 warga dengan 3 orang bayi dan beberapa balita (belum lokasi pengungsian lain yang juga di atas bukit). Dan bisa dibayangkan ketika hujan turun para orang tua terpaksa merelakan diri menjadi atap sementara bagi bayinya. Menggunakan badannya untuk melindungi anak mereka dari hujan.

Perasaan ini semakin tak keruan ketika sepulang dari kabupaten tak ada satu kejelasan pun di dapat. Padahal sampai hari minggu siang lambung-lambung yang lemah itu belum juga terisi barang sepotong makanan pun. Paling-paling mereka yang di atas bukit sempat mencabut beberapa batang singkong untuk makan bersama, termasuk untuk menu darurat untuk balita. Dari pihak birokrasi bahkan ada kecenderungan main lempar tanggungjawab dari kecamatan ke kabupaten, ke kalurahan, dst. Secara reflek aku segera memutuskan untuk menemui teman-teman, apalagi waktu itu hp lowbat, listrik mati, en jaringan juga eror so sekalian ngecharge batere di tempat buyung. Dan sukurlah, sore harinya seorang kawan langsung bisa mengantar bantuan makanan untuk orang dewasa dan balita. Paling tidak ada suntikan energi yang bisa disimpan untuk melewati hari itu.

Paginya beberapa bantuan sudah mulai berdatangan. Beberapa dari kawan yang menaruh simpati atas musibah itu (terima kasih yang dalam atas simpatinya), dan kami bersama para pemuda mulai mengumpulkan tenaga untuk mendirikan posko penerimaan dan distribusi bantuan yang segera mulai berjalan semenjak hari kedua paska gempa. Dan memang pemerintahan darurat di tingkat dusun itu ternyata lebih komplek dari yang dibayangkan. Kondisi yang panic, putus asa, dan ketakutan membuat suasana menjadi sarat konflik.

Dan yang lebih menyedihkan para petugas posko yang dikoordinir secara darurat pun juga mengalami trauma yang sama dengan para penerima bantuan yang lain, karena memanglah kondisi sekampung relative sama, sama-sama menjadi korban. Dan kami harus sangat berhati-hati dalam melakukan pembagian bantuan untuk tidak menimbulkan konflik yang tak perlu. Problemnya memanglah saat itu kondisi darurat, sehingga semua barang yang masuk, seperti tenda, tikar, dsb jumlahnya masih sangat terbatas, sehingga warga belum bisa memperoleh jatah yang mecukupi.

Kondisi diperparah dengan adanya isu penjarahan yang mulai memanas. Sehingga para petugas posko yang pada siang hari sibuk menerima dan mendistribusikan bantuan, mencari donator untuk memberikan bantuannya, dan juga masih harus mambagi waktu dengan kebutuhan mendesak di rumahnya, pada malah harinya masih harus berkeliling untuk melakukan ronda malam, sampai pagi.

Sekarang dah mending, hampir semua warga sudah mulai bisa menyesuaikan diri. Dan birokrasi RT/RW sudah mulai jalan, sehingga pelaksanaan posko bantuan pun sudah mulai bisa dirolong. Tinggal pemulihan semangat yang tampaknya masih butuh waktu. Serta sedikit waktu juga untuk merenungkan dan merencakan jalan ke depan setelah kejadian yang meluluhlantakkan segalanya itu.

Dan kadang-kadang jadi bingung juga, apa fenomena semacam itu merupakan refleksi dari kekuasaan sang kholik, ketidakseimbangan alam, rekayasa manusia, atau kah kebetulan semata? Serba mungkin bukan?

Reality Phobia


Kemaren dia menyeduh secangkir kisah

Tentang pohon cemara yang ujungnya meruncing tajam

Tentang akar-akarnya yang menghunjam kuat ke tanah

Tentang kulit batangnya yang kasar menggores lengan

Dia menggambarkan pohon itu di dinding-dinding kamar

Mungkin dia tak tahu, mungkin juga tak terlihat olehnya

Di ujung pohon itu kutilang kecil bernyanyi riang

Di bawah akarnya, cacing tanah berlindung dari matahari

Di balik kulitnya yang kasar semut-semut memberi makan anaknya

Dan sekarang kulukiskan mereka di dinding-dinding kamarku

Tentang Sesuatu


Lantai itu masih kotor dengan lumpur basah

Kau bilang belum sempat membersihkan sepatu

Perjalanan panjang telah menguras tenaga dan waktumu

Lalu kuberikan senampan pengertian untuk melepas lelah

Dan kau pun mengeluarkan selembar lukisan

Tentang malaikat-malaikat yang terikat dalam kesucian

Tentang para bidadari yang terkurung dalam kesetiaan

Tentang kesunyian yang melengking-lengking menembus masa

Waktu terus melaju di depan persinggahan

Lantai itu masih kotor, nampan itu telah kosong

Dan kau pun berlalu dengan lukisan itu

Suatu saat kudapati kau tengah berdendang

Tentang kepalsuan Judas yang berujung di tiang salib

Tentang terlemparnya Adam dari keabadian surga

Tentang kebisuan Kunthi yang menyembunyikan bara

Tiba-tiba aku teringat sehelai kain dan sebatang sapu

Seseorang, entah siapa telah mengambilnya dari beranda

Lantai itu masih kotor dengan lumpur yang mulai mengering

Dan nampan itu kini telah kosong….