Kesadaran tentang Kebenaran yang Salah (atau Kesalahan yang Benar?)
Menjadi sadar itu menyakitkan, seorang temen pernah bilang itu. Menurut dia kesadaran selalu menuntut orang bersikap dan melakukan sesuatu. Sedangkan individu memiliki keterbatasan dalam bersikap. Aku jadi inget masa kecil waktu dinasehati orang tua atau orang yang lebih tua, mereka bilang: “Ya udah, nggak ada dosa bagi orang yang nggak tahu, sekarang karna dah tau jangan diulang lagi.” Kalau sudah dibilang itu, jadinya selalu dibayang-bayangi ketakutan bersalah, atau dosa kalau ingin melakukan hal yang sama. Padahal tak jarang yang dianggap salah itu justru pilihan kita sejujurnya. Mungkin contoh kasus ini sedikit menggambarkan lontaran temanku tadi. Sadar berarti tahu dan paham sesuatu, dan kalau sudah paham, maka bersikap sesuai pemahaman kita, gitu….
Dulu, waktu masih SMP aku pernah baca sebuah cerpen (judulnya apa dan penulisnya siapa aku nggak ingat) yang ceritanya tentang seorang lelaki yang minta dibekukan selama puluhan tahun. Ketika dia dibangunkan dari tidur panjangnya di peti es, dia mendapati kenyataan sudah sangat berbeda. Semua anaknya sudah dewasa, ketika merasa lapar dia diberi dua butir kapsul yang bisa membuat kenyang. Semua hal sangat berbeda dengan masa sebelum dibekukan, sehingga sang tokoh merasa kebingungan mengikuti pola hidup yang baru itu. Akhirnya cerpen itu ditutup dengan dialog antara tokoh dengan anaknya, seperti ini (aku masih ingat betul percarakapan penutup itu):
Tokoh : Tolong bekukan lagi aku…
Anak : Berapa lama ayah?
Tokoh : Selama-lamanya…
Cerpen itu secara tak langsung menjelaskan bahwa memang segala sesuatu berubah. Tokoh dalam cerpen tersebut merasa bahwa perubahan telah terjadi sedemikian jauh selama tidur panjangnya. Dia merasa tak mampu lagi mengikuti alur perubahan itu dan memilih untuk mengistirahatkan kesadaran selama-lamanya. Memang benar, tanpa kesadaran berarti kita tidak memiliki satu tuntutan pun untuk melakukan sesuatu, kecuali oleh insting. Karena binatang pun tetap melakukan aktivitas mempertahankan hidup dan generasinya meski mereka tak memiliki kesadaran. Binatang bergerak dengan merujuk instingnya, sedangkan manusia bergerak dengan merujuk kesadarannya. Dengan kesadaran itu juga manusia mengakumulasikan berbagai pengalaman dalam satu masa atau pun pada masa yang berlainan untuk kemudian mengembangkan peradabannya.
Kesadaran memang sangat spesifik menandai supremasi manusia atas spesies lain. Meskipun kesadaran juga memiliki berbagai tuntutan yang tak jarang melampaui batas kemampuan seseorang. Marx bilang, manusia dibedakan dengan binatang oleh kesadarannya, atau dengan kata lain manusia memiliki insting yang relative sadar dibanding binatang. Meskipun dikatakan juga bahwa kesadaran bukanlah factor dominan, melainkan factor yang perkembangannya ditentukan oleh penyelenggaraan kehidupan materiil manusia sendiri. Namun kalau kita lihat lebih luas, unsure kesadaran juga yang membuat manusia berkembang sampai peradaban sekarang ini. Tanpa kesadaran mungkin manusia masih menjadi Pithecan Thropus yang tinggal di gua-gua dan bertahan hidup dengan berburu dan meramu, atau bahkan masih berupa bangsa kera seperti halnya gorilla, orang utan, atau monyet, menyedihkan nggak?
Padahal dalam keseharian dan juga sepanjang sejarahnya jenis kera juga melakukan aktivitas bertahan hidup, dengan bergelantungan di pohon, memetik, mengupas buah, memakannya, bergelantungan lagi, dan seterusnya. Namun dengan berbagai aktivitas tersebut, mereka tetap saja menjadi kera, karena tidak memiliki unsure genetic yang memungkinkan untuk melakukan evolusi dan mengembangkan kesadarannya. Tetapi memang, dalam perkembangannya kesadaran manusia sangat dipengaruhi aktivitas kerja keseharian, mulai dari aktivitas mempertahankan hidup, sampai ketika pembagian kerja terjadi, kesadaran manusia terus ditempa dengan berbagai proses pikir dan perenungan, eksperimen, atau pun penelitian, sejak zaman tetua adat sampai masa ilmuwan dan intelektul modern sekarang ini.
Jadi memang kesadaran atau rasionalitas ini lah yang membedakan manusia dengan berbagai spesies lain. Bukan berarti makhluk lain tidak memiliki rasionalitas, namun tingkat rasionalitas yang berbeda telah menyebabkan satu spesies (khususnya manusia) memiliki tingkat peradaban yang berbeda dengan spesies lain. Jangankan antar spesies, sesama manusia pun memiliki tingkat kesadaran dan rasionalitas berbeda-beda. Hal ini bisa dipengaruhi tingkat aktivitas, pengalaman, serta latar belakang personal masing-masing individu. Dan tentu saja sejalan dengan factor materiil yang melingkupi tersebut, kesadaran seseorang akan sangat dipengaruhi sejauh mana, atau semampu apa seseorang merangkum, dan merefleksikan pengalaman materiil yang melingkupinya, baik yang dialami secara langsung, atau yang diperoleh dari literatur.
Dalam wilayah personal, tindakan yang sadar berarti sikap yang rasional. Sikap yang didasari pertimbangan konsisten atas system nilai tertentu, bukan tindakan berdasar rangsangan emosional semata. Setidaknya ada dua hal mempengaruhi kesadaran sikap atau rasionalitas seseorang. Yang pertama adalah kemampuan kerja otak, yang memungkinkan seseorang menampung, merunut dan menghubungkan berbagai variable dalam kalkulasi yang konsisten untuk kemudian merumuskan pola yang memperantarai variable tersebut. Proses kerja otak ini juga memungkinkan seseorang untuk menyimpulkan sesuatu yang benar, mungkin, atau salah/tidak mungkin. Yang kedua adalah ketahanan emosi, yang memungkinkan seseorang secara konsisten membedakan dan mempertahankan pola atau berbagai probabilitas yang diolah otaknya. Ketahanan emosi akan mempengaruhi seseorang untuk tetap pada pendirian tentang mana yang benar, mana yang mungkin, dan mana yang salah atau tidak mungkin berdasarkan proses pikir yang dilaluinya. Factor emosi ini juga mendukung keberanian seseorang untuk melakukan pengujian terhadap sesuatu yang disadari, serta menanggung segala konsekuensi atas pengujian tersebut.
Permasalahannya, sejarah manusia sendiri mengalami beragam situasi yang terus berkembang. Dan seiring pergeseran itu juga kesadaran tentang sesuatu yang dianggap benar menjadi bentuk jamak yang memiliki tingkat persamaan dan perbedaan dalam berbagai kemunculannya. Jangankan dalam hitungan sejarah, dalam wilayah antar personal pun seringkali satu hal dianggap benar dan rasional oleh seseorang, tetapi dipersalahkan individu lain. Ilmu pengetahuan mencoba memberi alternative dengan mengatakan bahwa yang benar adalah yang bisa dibuktikan keberadaannya. Berbagai prasyarat ilmiah harus dilalui agar sesuatu bisa dikatakan benar. Kerangka epistemology, ontologi, dan aksiologi kemudian menjadi perangkat pembenar bagi suatu pengetahuan untuk bisa dikatakan sebagai ilmu. Dan lebih jauh lagi ilmu pengetahuan juga dilengkapi dengan metodologi untuk memferifikasi apakah sesuatu bisa dikatakan benar.
Belakangan kemudian muncul beragam pendapat dalam tubuh ilmu pengetahuan sendiri yang mengkritik ilmu sebagai perangkat pembenar. Mulai dari teori kritik yang menggugat keberadaan ilmu pengetahuan sebagai disiplin positivistic, sampai post-modernisme yang dalam titik ekstrim menolak model kebenaran ilmu pengetahuan. George Ritzer mengatakan bahwa ilmu pengetahuan selalu melewati revolusi yang mengantarkan perubahan menuju paradigma baru. Namun terlepas dari baragam diskursus tentang kebenaran tersebut, secara implicit ada satu hal yang bisa kita garis bawahi, bahwa kesadaran dan rasionalitas manusia memanglah selalu berkembang dari masa ke masa, yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk lain. Dan satu hal tak bisa diabaikan, bahwa landasan dari pencarian kebenaran tersebut tetap bertolak pada bentuk rasionalitas dan kesadaran yang terakumulasi dari masa ke masa, dalam konteks personal maupun social.
Lalu di mana relasi antara akumulasi rasionalitas, kesadaran dan bentuk-bentuk kebenaran dalam lintasan sejarah dengan sikap rasional dalam keseharian kita? Apakah dalam keseharian kita mengadopsi kebenaran, kesadaran, serta rasionalitas yang mendominasi epos kita? Tentu saja, sadar atau tidak, kita akan terpengaruh model dominant yang sedang berlaku dalam masa hidup kita. Namun harus tetap dicatat bahwa bentuk rasionalitas seseorang sangat dipengaruhi aktivitas keseharian. Saat ini kita hidup dalam dunia besar yang bernama masyarakat global, yang terhubung secara langsung atau pun tidak langsung dengan media transportasi, komunikasi, media massa, atau pertukaran produk yang telah menembus batas-batas teritori. Di sisi lain kita juga berada dalam dunia kecil yang memiliki sejarah dan lintasan panjang berbeda dengan bagian-bagian dunia manapun. Dunia kecil bernama komunitas, lingkungan atau yang lebih kecil lagi bernama pengalaman pribadi.
Maka dalam mengadopsi rasionalitas dan memahami kebenaran, seseorang dipengaruhi pergulatan pengaruh kedua dunia tersebut. Pergulatan tersebut kemudian mengkristal menjadi system nilai yang mengendap dalam diri seseorang. System nilai ini mempengaruhi seseorang dalam memandang sesuatu, melakukan analisa, dan mengambil keputusan. Dalam hal ini sekali lagi ketahanan emosi dan kemampuan pikir sangat mempengaruhi pijakan seseorang terhadap nilai. Tanpa keduanya orang akan terbawa arus tanpa pijakan nilai yang jelas. Namun dalam bentuk yang ekstrim ketahanan emosi juga berpotensi pada sikap fanatik yang berlebih.
So, memang banyak jenis kebenaran melayang-layang di atas belantara menusia ini. Lalu mana kebenaran sejati? Tampaknya space ini terlalu sempit untuk mengurainya, semoga aja space hidup masih cukup luas untuk terus menelusur.…