unpredicable incident
Terkadang realitas tak seperti yang kita harapkan, demikian orang banyak bilang, dari Ludwig Feuerbach sampai Sandra Bullock dalam while you’re sleepingnya. Dan memang itu yang kualami dua minggu terakhir ini. Tepatnya mulai tanggal 27 mei 2006 pas aku masih terlelap dalam tidur yang sangat singkat. Hari itu aku baru terlelap mendekati jam lima pagi, dan tak satu jam kemudian guncangan keras membangunkan tidurku singkat itu.
Awalnya kupikir ada yang iseng bikin kekagetan yang gak penting. Ternyata bukan, karena semua benda di sekelilingku melonjak-lonjak, bahkan sampai genteng kamar sebelah rontok layaknya daun kering yang meranggas di musim kemarau. Kurang lebih sepuluh menit kepanikan dan ketakutan masih menyelubungi suasana saat itu. Dan ternyata kepanikan lain menyusul.
Sekitar jam setengah delapan orang-orang berlarian menyelamatkan diri lantaran isu Tsunami tiba-tiba aja berdengung di mana-mana. Dan dengan itu aku segera tahu kalau pusat gempa yang sedang terjadi saat itu berasal dari daerah selatan, bukan dari Merapi seperti yang diperkirakan banyak orang sewaktu kejadian. Saat itu juga om Ryas dari sebelah kasih kabar kalau daerah imogiri, tempat tinggalku mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa tektonik berkekuatan 5,9 skala richter itu.
Aku masih belum begitu yakin, paling-paling retak-retak biasa. Maka pas mbakku telpon en kebetulan hpku lagi drop, aku masih belum yakin bahkan sempet suudzon kalau dia lagi berusaha nagih janji skripsiku bulan ini. Apalagi semua aliran listrik langsung padam seketika, maka rencana telpon rumah menyakan kabar pun kuurungkan sementara.dan abis itu masih sempet ngopi en buka2 file komputerku. Tapi jam 11 siang baru aku cukup panic ketika seorang kawan datang en bilang kalau daerah selatan memang mengalami kerusakan sangat serius, en korban dah mencapai ratusan jiwa.
Segera aku cabut dengan perasaan tak keruan. Dan setelah 45 menit perjalanan, ternyata yang kujumpai memang di luar perkiraan sama sekali. Rumahku sudah rata dengan tanah, begitu juga rumah-rumah di sepanjang jalan menuju kampung. Bisa di bilang hampir seratus persen kampung berpenghuni lebih dari 1000 jiwa dengan 300 bangunan rumah itu rata dengan tanah. Mungkin seperti kadipaten Tuban yang digilas pasukan gajah Majapahit yang dipimpin mahapatih gajah mada, atau seperti kebudayaan Semith yang dilumat bangsa arya. Bedanya yang ini terjadi di depan mata, sementara dua hal di atas hanya kudapat melalui literatur.
Di sepanjang jalan kampung kudapati semua tetangga bermuka murung, aku harus turun dari motor lantaran beberapa ruas jalan tertutup runtuhan tembok atapun pagar yang jatuh melintang. Beberapa tetangga sempat bersalaman, menanyakan kabar, memberitakan kalau sudah ada 12 korban jiwa di kampungku (sampai malam kemudian seluruh korban bertambah menjadi 16 orang termasuk nenekku). Selebihnya tak sempat memperhatikan, dan lebih sibuk memungut serpihan reruntuhan rumah sambil mengekspresikan kemurungan yang mendalam. Kejadian yang tak terduga itu telah merenggut keramahan yang selama ini menjadi etika wajib di kampung halamanku yang mungil itu. Di rumah (atau lebih tepatnya mantan rumah) sudah menunggu kakak dan ayah ibu yang juga sedang sibuk menyingkirkan bebatuan dari jalan.
Waktu itu mereka menceritakan kalau nenek dalam keadaan selamat meski pun pinggangnya sempat kejatuhan serpihan tembok sewaktu dia dibopong keluar rumah. Dan sekarang om ku dah membawanya ke rumah sakit. Maka begitu mengejutkan ketika dua jam sesudahnya kami mendapat kabar kalau nenek tak tertolong, meninggal beberapa saat setelah memperoleh infuse.
Sewaktu sampai di mantan rumahku itu, yang langsung terpikir adalah membersihkan reruntuhan di sekitar halaman, menyelamatkan barang keperluan mendesak yang bisa digunakan, serta mencari tempat untuk bermalam. Akhirnya aku bareng masku (dengan memberanikan diri) menelusup di bawah jebolan atap yang tinggal setinggi kurang dari 1,5 meter karena sewaktu runtuh masih tertahan retakan tembok yang kalo terkena goyanangan sedikit lagi maka siap meratakan diri dengan tanah menyusul bagian rumah yang laen. Tapi apa boleh buat, waktu itu kami butuh beberapa helai pakaian, tikar, sarung seperlunya untuk kebutuhan sementara. Bener-bener mirip Rambo yang menelusur lorong bawah tanah berpacu melawan ledakan yang meruntuhkan, cuiiihhh ini bukan pilem brurr….
Dan paling tidak malam itu kamu memiliki tikar untuk alas tidur, en beberapa helai sarung untuk selimut. Untuk tempat bermalam, kebetulan di sebelah rumah ada warung angkringan yang masih berdiri utuh. Karena memang bangunan yang tidak permanent tak ada yang runtuh. Termasuk warung itu yang hanya bertiang bamboo dan tidak memiliki dinding,. Kampong dah mulai sepi karena mayoritas (hampir semua) warga mengungsi ke atas bukit lantaran isu tsunami yang diedarkan para bajingan yang layak mati sengsara itu (atau hidup tanpa lidah). Sementara ayahku tak ikut mengungsi ke atas bukit karena dia ikut gurusin jenazah yang harus dikebumikan secara darurat dan massal, tanpa penyelenggaraan seperti yang dipercaya penduduk setempat.
Sementara malam itu aku kembali tak tidur sama sekali, menunggu di tempat tidur darurat sambil membayangkan ratusan warga yang sedang mengungsi di atas bukit, karena kebetulan saat itu menjelang pagi hujan deras mulai mengguyur debu-debu pecahan tembok yang baru saja hinggap kembali setelah seharian malayang-layang di udara, sebagian debu-debu itu juga masih melekat di badan lantaran kamar mandi yang biasa membilasnya sudah menyerah di bawah puing-puing rumah kami. Tapi satu hal yang sangat menyedihkan waktu itu adalah, bahwa tak kurang seratus balita dan manula ikut mengungsi ke atas bukit lantaran isu Tsunami terkutuk itu.
Dan paginya ketika aku menyempatkan diri menjenguk mereka yang di atas bukit, ternyata benar apa yang kukhawatirkan. Di satu tempat pengungsian terdapat tak kurang dari 30 warga dengan 3 orang bayi dan beberapa balita (belum lokasi pengungsian lain yang juga di atas bukit). Dan bisa dibayangkan ketika hujan turun para orang tua terpaksa merelakan diri menjadi atap sementara bagi bayinya. Menggunakan badannya untuk melindungi anak mereka dari hujan.
Perasaan ini semakin tak keruan ketika sepulang dari kabupaten tak ada satu kejelasan pun di dapat. Padahal sampai hari minggu siang lambung-lambung yang lemah itu belum juga terisi barang sepotong makanan pun. Paling-paling mereka yang di atas bukit sempat mencabut beberapa batang singkong untuk makan bersama, termasuk untuk menu darurat untuk balita. Dari pihak birokrasi bahkan ada kecenderungan main lempar tanggungjawab dari kecamatan ke kabupaten, ke kalurahan, dst. Secara reflek aku segera memutuskan untuk menemui teman-teman, apalagi waktu itu hp lowbat, listrik mati, en jaringan juga eror so sekalian ngecharge batere di tempat buyung. Dan sukurlah, sore harinya seorang kawan langsung bisa mengantar bantuan makanan untuk orang dewasa dan balita. Paling tidak ada suntikan energi yang bisa disimpan untuk melewati hari itu.
Paginya beberapa bantuan sudah mulai berdatangan. Beberapa dari kawan yang menaruh simpati atas musibah itu (terima kasih yang dalam atas simpatinya), dan kami bersama para pemuda mulai mengumpulkan tenaga untuk mendirikan posko penerimaan dan distribusi bantuan yang segera mulai berjalan semenjak hari kedua paska gempa. Dan memang pemerintahan darurat di tingkat dusun itu ternyata lebih komplek dari yang dibayangkan. Kondisi yang panic, putus asa, dan ketakutan membuat suasana menjadi sarat konflik.
Dan yang lebih menyedihkan para petugas posko yang dikoordinir secara darurat pun juga mengalami trauma yang sama dengan para penerima bantuan yang lain, karena memanglah kondisi sekampung relative sama, sama-sama menjadi korban. Dan kami harus sangat berhati-hati dalam melakukan pembagian bantuan untuk tidak menimbulkan konflik yang tak perlu. Problemnya memanglah saat itu kondisi darurat, sehingga semua barang yang masuk, seperti tenda, tikar, dsb jumlahnya masih sangat terbatas, sehingga warga belum bisa memperoleh jatah yang mecukupi.
Kondisi diperparah dengan adanya isu penjarahan yang mulai memanas. Sehingga para petugas posko yang pada siang hari sibuk menerima dan mendistribusikan bantuan, mencari donator untuk memberikan bantuannya, dan juga masih harus mambagi waktu dengan kebutuhan mendesak di rumahnya, pada malah harinya masih harus berkeliling untuk melakukan ronda malam, sampai pagi.
Sekarang dah mending, hampir semua warga sudah mulai bisa menyesuaikan diri. Dan birokrasi RT/RW sudah mulai jalan, sehingga pelaksanaan posko bantuan pun sudah mulai bisa dirolong. Tinggal pemulihan semangat yang tampaknya masih butuh waktu. Serta sedikit waktu juga untuk merenungkan dan merencakan jalan ke depan setelah kejadian yang meluluhlantakkan segalanya itu.
Dan kadang-kadang jadi bingung juga, apa fenomena semacam itu merupakan refleksi dari kekuasaan sang kholik, ketidakseimbangan alam, rekayasa manusia, atau kah kebetulan semata? Serba mungkin bukan?