Sesuatu yang Berpusar
30 Juli 2006
Red Dragon (Trilogy Silent of the Lambs): “Anggaplah setiap hari adalah hari terakhirmu, waktu yang tak kau nantikan akan datang sebagai kejutan”
Merapi masih juga meniupkan nafas panas berwarna kemerahan diiringi tiupan awan putih, terkadang juga kelabu. Di pagi hari, ketika polusi belum membungkus kota yang konon merupakan pusat pendidikan dan kebudayaan ini, sosok merapi dapat dilihat dengan jelas dari depan kost. Tampak seperti mata Sauron menjelang kebangkitan ruh jahatnya. Sementara guncangan-guncangan kecil yang konon berasal dari penjuru selatan pulau ini masih juga terasa. Kadang memangunkan tidur malam dengan mengetuk-ngetuk jendela kamar, kadang juga menggeser rak buku dan mengantukkannya dengan dinding kamar.
Begitulah juga malapetaka yang terjadi dua bulan lalu, ketika orang masih terpaku menatap utara, tiba-tiba terjadi sentakan hebat dari belakang punggung, dan ketika memutar kepala, ribuan bengunan serta jiwa telah berjatuhan. Peristiwa yang singkat dan maha dahsyat. Dan sampai sekarang sisa-sisanya masih terasa, guncangan-guncangan kecil dari selatan yang menyentak tidur tengah malam, atau hembusan nafas kemerahan di arah utara.
Terkadang ironis memang, sesuatu yang sebenarnya bermakna bahaya bagi banyak orang, tak jarang justru menjadi hiburan bagi kelompok yang lain. Hal serupa kualami sendiri, kemarin pagi, ketika baru sebagian manusia terbangun dari lelap, di penghujung utara tampak Mata Raksasa Sauron mengerjap dengan kilatan apinya. Terlihat benar betapa alam masih menunjukkan keperkasaannya, dan…sungguh indah. Apalagi ketika kita menatapnya dari balik rumpun anggrek merpati yang sedang merekah di akhir bulan juli ini. Sampai di sini aku tertegun. Betapa keindahan itu telah mendatangkan kepanikan bagi ribuan orang di kaki raksasa yang sedang demam itu.
Kejadian lain juga sempat kualami secara langsung ketika telapak ibu bumi melambai, mengebaskan benda-benda kecil yang ada di atasnya. Termasuk benda kecil yang selama ini menjadi pernaungan serta tempatku tumbuh berkembang sejak pertama kali mencicipi bau atmosfer bumi 26 tahun silam. Ketika banyak orang merasa panic, kalut galau, dan gamang menatap kehidupannya. Berbarengan dengan orang-orang yang sibuk melakukan pendataan, entah dengan dalil kemanusiaan, proyek, prestise, atau apa pun. Yang jelas saat itu ada dua suasana yang terjadi berbarengan antara mereka yang hilang pengharapan dengan mereka yang menyaksikan hal baru yang belum pernah terlihat atau satu hal yang memberi pengharapan. Dan tak sedikit pula mereka yang datang hanya untuk mengabadikan momentum itu sebagai koleksi pribadi.
Tampaknya memang semua hal memiliki sisi yang berlawanan. Sesuatu yang menyenangkan, tak jarang menjadi terror bagi orang lain. Sebaliknya, yang mengerikan, bisa jadi merupakan kesenangan bagi orang lain. Jangankan dalam relasi interpersonal, untuk diri sendiri sekalipun, kadang-kadang kita tersenyum mengingat hal buruk yang pernah kita alami, bahkan pengalaman yang paling menyedihkan sekalipun. Sebaliknya, kadang kita menjadi sedih mengingat sesuatu yang sebenarnya menyenangkan.
Semua terjadi dan berlalu. Mungkin memang kemuliaan atau pun kutukan hanyalah sesaat, kemudian semua serupa. Tak ada keagungan ataupun kutukan. Seperti halnya adam dan hawa yang menjadi abadi setelah mereka terlempar dari keabadian itu sendiri. Dan keabadian itu datang kembali ketika semua telah berlalu. Dan ketika mereka sedang menjalani mungkin saja mereka tak pernah merasakan keabadian maupun kutukan itu.