These Days
But in the day, everything’s complex
Nothing is simple, when I’m not around you
Nampaknya aku harus menganggukkan kepala saat mendengar lirik “When You’re Gone” di atas. Hari ini tak ada lagi hal sederhana. Atau mungkin aku yang lupa pada hal-hal sederhana itu? Ah, tapi aku tidak sedang merindukan sesuatu yang telah pergi seperti The Cranberries. Aku hanya berbicara dengan waktu.yang entah, apakah dia yang mengubah semua menjadi sekompleks ini, atau kah sekedar alur yang menemani materi yang bergeser sedemikian jauh.
Lebih dua puluh tahun lalu, aku masih ingat. Rasanya sangat sulit memetik buah jambu di atas pohon yang batangnya dihuni ratusan atau mungkin ribuan semut merah yang siap menyerbu siapa saja yang melintas. Sehingga aku harus minta ayah atau kakak untuk memetikkan. Dan aku juga masih ingat, alangkah mudahnya memetik jeruk yang tinggi pohonnya kurang dari satu meter, semudah membalik telapak tangan.
Yah, membalik telapak tangan sangat mudah, aku masih ingat. Sama mudahnya dengan bermain-main air atau membikin “itik-itik” (replica bangunan dari pasir basah) di “gesikan,” padang pasir putih di pinggir sungai dekat rumahku waktu itu. Tak sesulit pertanyaan-pertanyaan yang kadang melintas. Bagaimana kita bisa terlahir? Mau apa kita? Kenapa nggak boleh main terus-menerus? Kenapa harus sopan sama orang? Dan banyak lagi pertanyaan yang membingungkan.
Itu yang membuatku terkesan dengan para ilmuwan, ulama, pejabat yang nampang di TV atau yang kutemui dalam keseharian masa itu. Tanpa keraguan mereka menyampaikan pandangannya tentang hidup, misi sosial, ilmu pengetahuan dan segala asketisme dengan meyakinkan. Sama hebatnya dengan cerita ayah tentang tokoh-tokoh besar dan heroisme yang tak pernah lekang. Dan sama kagumnya dengan ayahku sendiri yang menyampaikan semua dengan fasih, dan menjawab pertanyaan-pertanyaanku tanpa keraguan.
Dan banyak lagi, hal-hal yang terasa sangat mudah ataupun sulit, ketika semua masih sangat sederhana. Ketika spectrum masih berlapis hitam dan putih, mudah dan sulit, mampu dan tak mampu, etc. Dan sekarang? Semua terasa sulit, bahkan untuk sesuatu yang sangat mudah, seperti main-main air, atau membuat itik-itik di pinggir sungai. Bahkan aku tak ingat, sudah berapa lama aku tak melakukannya lagi.
Tapi anehnya, sekarang aku tak lagi kagum pada orang-orang yang dulu kuanggap hebat itu. Apa yang mereka lakukan bukan lagi sesuatu yang hebat. Bahkan terpikir, bukan tak mungkin aku sendiri mampu melakukannya. Tapi kenapa semua terasa sulit? Bahkan untuk sekedar bermain-main air atau itik-itik di pinggir sungai?
Tampaknya memang tuntutan waktu yang berbeda. Waktu yang mengajak kita menyambut, menjumpai sesuatu untuk kemudian meninggalkan, ditinggalkan. Waktu yang mengantar menembus keterbatasan yang dulu sangat rumit, melewati peristiwa tak terbayangkan, kehilangan semua yang berharga, orang-orang tercinta, semua yang menyenangkan dan menyedihkan. Bukan untuk disesali, tapi diendapkan, dan tetap mempertahankan yang tak ingin ditinggal. Dan ketika gagal, sekali lagi waktu yang memaksa tetap melaju, tanpa toleransi atas penyesalan, hanya refleksi, perenungan dan tetap melaju. Materi telah bergeser sedemikian jauh, dan waktu memiliki tuntutan berbeda, entah berbanding lurus atau kah acak.
Dan tampaknya ada hal lain yang juga menghilang saat ini, kemustahilan dan kepastian. Semua menjadi mungkin, karena ketidakmungkinan telah terjadi, seiring menghilangnnya kepastian. Peristiwa terburuk yang terasa tak mungkin, atau optimisme-optimisme yang menguap. Waktu telah menciptakan semua kemungkinan, mengenyahkan semua kekhawatiran, hingga hari ini aku bercakap-cakap dengannya.