Kesetiaan
Pertama-tama muncul gambaran sebuah rantai besar yang mengikat. Kemudian terbayang sebuah kacamata kuda. Itu lah gambaran yang muncul saat berpikir tentang “kesetiaan,” faith, loyality, commitment, atau apa pun istilahnya. Kesetiaan itu kaku, membabani, hitam putih dan membosankan. Bayangkan sebaliknya, andai tidak ada tuntutan untuk menjadi seorang yang setia, andai tidak ada tuntutan berkomitmen, andai tidak ada, andai tidak ada…dan seterusnya. Tentu sangat menyenangkan hidup menuruti naluri, memilih berdasar impuls syaraf yang mengembang. Datang dan pergi mengikuti kesempatan, perhitungan “untung-rugi” semata.
Lalu apa relevansi kesetiaan, komitmen, loyalitas atau apa pun namanya? Pertanyaan itu sebenarnya menyerupai pertanyaan: kenapa kita harus kentut kalau kita nggak suka baunya? Kenapa harus buang air kalau males cebok, dan semacamnya. Kata kunci untuk menjawab pertanyaan itu adalah kebutuhan dan pilihan. Inti dari kedua kata kunci itu tetap sama, yaitu kecenderungan orang untuk menyusun keselarasan antara keadaan subyektifnya (individu) dengan kondisi obyektif (lingkungan) yang melingkupi.
Namun begitu, tetap ada perbedaan antara kebutuhan dan pilihan. Kebutuhan mendorong orang untuk melakukan tindakan yang mutlak, tidak bisa tidak. Dalam keseharian kebutuhan ini muncul dalam bentuk tuntutan untuk mereproduksi energi dengan makan, minum, istirahat, dan sebagainya. Kalau berbagai tuntutan itu tidak dipenuhi, maka bisa dipastikan bahwa orang tersebut akan mengakhiri hidupnya dengan sukses, lantaran kehabisan energi.
Sedangkan pilihan lebih menekankan peran aktif individu, yang dihadapkan pada alternatif yang jamak. Contoh kasus, misalnya seseorang dihadapkan pada kebutuhan untuk menyelamatkan diri sendiri atau berusaha menolong temannya ketika sama-sama sedang terancam. Di sini orang akan menimbang, seandainya dia berusaha menolong kawannya, maka ancaman akan lebih besar. Sebaliknya, ketika memutuskan untuk menyelamatkan diri sendiri, maka ancaman akan lebih kecil. Tujuan utama di sini adalah keselamatan. Maka dari itu sebenarnya piliha kedua untuk menyelamatkan diri sendiri akan lebih baik dalam parameter tujuan itu.
Tapi kenyataannya tidak mutlak seperti itu. Karena bisa jadi orang tersebut berpikiran, seandainya dia bisa menyelamatkan diri sendiri, namun gagal menyelamatkan temannya, maka dia akan menjalani kehidupan yang tidak tenang. Dibayangi kesalahan, penyesalan, yang dalam titik paling ekstrim juga bisa berimplikasi pada gangguan jiwa atau bahkan bunuh diri. Dan di sinilah faktor pilihan mengambil perannya, masalah spiritual, bukan semata pertimbangan fisik atau materiil.
Dalam hal ini kesetiaan memiliki dua makna. Yang pertama yaitu kesadaran seseorang untuk memenuhi kebutuhannya, dan yang kedua yaitu kesungguhan seseorang untuk memilih, dan mempetimbangkan setiap efek dari pilihannya tersebut. Dalam konteks pertama kesetiaan akan muncul dalam bentuk kedisiplinan dalam bersikap dan bertindak. Dan yang kedua akan terlihat dalam keteguhan serta ketangguhan dalam mempertahankan sikap dan tindakannya.
Jadi kenapa kita harus setia? Tentu pertanyaan ini nggak bisa dijawab dengan indikator materiil semata. Setia pada kebutuhan akan lebih mudah dijawab, karena hal itu memang berkaitan erat dengan persoalan materiil. Tapi setia pada pilihan, adalah masalah spirituil, mengenai teori dan praktik, dan lebih dekat dengan masalah asketisme, tentang “apa yang berarti atau berharga.” Dan dalam kenyataannya, memang seringkali dua kesetiaan itu seringkali saling bertentangan.