Just Wishes
Rasanya mata ini udah bengkak. Seperti Gandalf, penyihir tua berambut putih yang kelopak matanya menggelantung seperti orang mau tidur. So bored, bercinta dengan key board dan monitor, penetrasi tanpa orgasme. Kalau saja nggak dikejar deadline pasti lah aku udah cabut. Ah, tapi semua tempat tak lebih dari pasar loak. Hanya menyajikan barang-barang bekas, semua yang pernah dikonsumsi atau dilakukan orang lain. Mereka yang ada di masa kita, atau dari peradaban lain yang telah tiada. Semua yang masih saja menyisakan kepedihan, ketimpangan, menang-kalah, menguasai dan terpinggirkan…
Kalau saja mungkin, ingin rasanya sejenak melepaskan otak, menanggalkan hati, menyimpannya di laci kamar, dan atau sejenak meletakkan raga di lemari pakaian. Terbang menembus dimensi keempat, keluar masuk pintu-pintu parallel antar masa. Mengais serpih-serpih cerita tak berujung, membongkar selaput kemunafikan yang tersekat batas-batas waktu. Tentu semua akan menggairahkan, melebihi panorama virtual yang pernah ada. Menciptakan desir-desir adrenalin sekuat tarikan black-hole, atau buaian harmoni laksana evolusi planet dalam tata surya.
Sesuatu yang lebih garang dari raungan David ‘Disturbed’ Draiman, lebih liar dari aksi Jim Morrison, lebih seksi dari lengkingan Amy ‘Evanessence’ Lee, lebih lembut dari alunan biola Sharon Corr. Lebih lentur, lebih lincah, dan lebih cekatan dari tarian jemari di atas key board ini. lebih dari semua barang bekas di pasar loakan. Lebih dari semuanya, lebih dari…. Ah tapi deadline makin menghimpit bung, dan aku harus menyelesaikan secepatnya, atau istirahat lelap buat cadangan energi esok pagi. Met malam, eh pagi…
Pringwulung, 16 Februari 2007